Selain menjual hasil ke pasar, Jamur Tiram Putih bisa dijual ke konsumen dalam bentuk hidangan. Sudah tentu keuntungan lebih meningkat, karena kita yang menentukan harga hidangan tersebut.
Strategi pemasaran dalam bentuk hidangan langsung atau membuka rumah makan, sudah dijalankan oleh sepasang suami-istri di Yogyakarta, di Depok dan ditempat lainnya.
Baiklah untuk melihat bagaimana peluang usaha Jamur Tiram Putih dihidangkan dalam bentuk hidangan penulis menuju langsung ke rumah makan Je-Jamuran di Yogyakarta.
Cara menuju ke sana adalah menyusuri jalan raya Magelang, setelah itu ada perempatan, butuh waktu 5 menit untuk menyusuri jalan ke dalam restaurant. Jalan ke dalam restaurant terlihat sepi, kontras ketika hendak sampai ke tempat yang dituju, terlihat banyak pengunjung menuju ke resto.
Teryanta banyak orang yang hendak menyantap makanan non-kholesterol ini! Di resto ini tersedia berbagai macam menu makanan dan minuman dari Jamur. Karena banyaknya Jamur, maka dinamakan Je-Jamuran. Di sini tersedia makanan yang berasal dari Jamur Tiram Putih, Jamur Tiram Coklat, Jamur Tiram Abu-Abu, Jamur Kancing, Jamur Kuping, Jamur Shitake, Jamur Lingzhi dan masih banyak lagi.
Karena Jamur adalah makanan non-kholesterol, ketika memilih makanan yang akan disantap, kami tidak ragu-ragu untuk memilih menu sebagai berikut:
• Sate Jamur
• Tongseng Jamur
• Jamur Portabello
• Jamur Pedas Manis
• Pepes Jamur Shitake
Untuk minumannya dipilih Sarapella dingin. Nama Sarapella adalah plesetan dari buah Sarsapilla, buah ini berasal dari Amerika Tengah. Apakah di Yogya juga sudah dibudidayakan juga? Nanti saya akan cari informasi, apakah buah ini budidaya local atau import. Bentuk botolnya unik, seperti dibawah ini.
Sambil menunggu hidangan, kami melihat budidaya aneka Jamur di halaman belakang. Ternyata baglog Jamur Tiram Putih yang dipakai adalah ala Jepang, yaitu baglognya panjang seperti sanksank tinju. Setelah rekan saya berfoto, kami melanjutkan melihat jenis lain.
Setelah puas melihat budidaya Jamur dan beristirahat sejenak, kini tibalah saatnya menikmati hidangan.

Diiringi live musik, berirama Latin, bukan langgam Jawa, kami menikmati hidangan Je-Jamuran. Musiknya terasa menyegarkan, setelah hari-hari yang lalu selalu mendengarkan langgam Jawa yang selalu didendangkan oleh rekan saya satu kamar setiap pagi. “Yeng in tawang ono lintang”….begitu intro dinyanyikan setiap paginya.
Rasa hidangannya, mphh…lembut dan nikmat. Terlihat menu ini memang diracik agar menyerupai rasa aslinya.