Jamur Tiram Putih Blog
Saung Pak Goro
Lezatnya jamur tiram putih membuat saya berfikir, bagaimana cara membudidayakannya. Didorong oleh rasa penasaran, akhirnya sayapun mulai mencari informasi sebanyak banyaknya tentang budi daya jamur tiram. Kebetulan sekali seorang pengusaha jamur tiram putih yang sukses sedang mencari mitra untuk bekerja sama dalam mengembangkan usahanya. Setelah mendapatkan nomer telepon beliau, saya segera menghubungi pengusaha itu. “Halo Pak selamat pagi,” ujar saya. “Pagi juga, siapa yah ini ?,” ucap sipengusaha itu. “Saya Vian Pak, saya mendapat informasi bahwa Bapak mencari mitra untuk usaha Jamur Tiram, saya ingin informasi lebih detailnya,”saya menjelaskan. “Oh lebih baik datang saja ke tempat saya, saya akan menerangkan secara rinci, minggu besok saya ada di saung, sembari panen jamur di saung saya,”jawb pengusaha menjawab permintaan saya.
Tiba saatnya hari minggu, saya panaskan mobil sembari menyeruput kopi tanpa ditemani rokok. Rokok sudah lama saya tinggalkan, karena pada dasarnya saya merokok untuk menemani pasangan saya saja. Dulu ketika pacar saya merokok saya ikut menemani merokok, sekarang istri saya tidak merokok, yah saya juga tidak merokok juga. Sambil bersiul-siul kecil saya menginjak pedal gas pelan-pelan, sialnya tape mobil saya lagi ngadat, jadi saya menghibur diri dengan bersiul saja. Baru saja mobil saya belok ke kiri, terlihat tetangga saya yang sedang celingak-celinguk. “Hei Brur, lagi ngapain celingukan?,”tanya saya. “Oh lagi cari temen buat maen gaple,”ujar si brur asal jawab. Buset deh nih orang pagi-pagi dah mau main gaple, gumam saya dalam hati. “Mau ikut nggak kunjungan ke saung Jamur Tiram Putih,”ajak saya. Tanpa pikir panjang si Brur ikut naik mobil saya. “Dah setengah jam, lawan main gaple nggak ada, mending ikutan kunjungan ke saung Jamur Tiram Putih deh,”si Brur bergumam. O iya, Brur itu adalah nama panggilan untuk orang Belanda, tapi anehnya tetangga saya itu sama sekali nggak ada tampang Belanda. Usut punya usut, ternyata panggilan Brur adalah singkatan dari kecebur. Waktu kecil dia pernah kecebur got, sehingga sampai saat ini dijuluki Brur. Brur bukan Broer lho.
Gambar Pak Wandi memberi penjelasan prospek budidaya Jamur Tiram Putih:
Setiba di saung Jamur Tiram Putih, saya disambut oleh Pak Wandi. “Silahkan Pak, masuk ke dalam, Pak GR sudah menunggu di dalam,”ujar Pak Wandi. “Wah orang ini namanya kok GR yah?”,gumam saya. “Mungkin orang ini terlalu percaya diri, jadi ke GRan deh dianya,”tebak saya asal-asalan. “Pak GR itu singkatan dari Girindra,”ujar Pak Wandi seperti bisa membaca pikiran saya. Semenjak Partai Gerindra berpromosi di TV, Pak Girindra minta dipanggil Pak GR saja, biar beda katanya. “Ooh gitu yah,”saya mengangguk-angguk kepala. “Mari Pak kita panen Jamur Tiram Putih terlebih dahulu,”teriak Pak GR dari dalam. Suara itu sepertinya saya kenal, tapi itu seperti suara teman saya waktu kecil, namanya Pak Goro. Pak GR muncul sambil terkejut. Saya juga terkejut. Ternyata benar dia adalah Goro, cuma bedanya sekarang dia punya kumis yang lebat. “Goro khan,”ucap saya. Goro hanya cengengesan saja. Iya nama saya sekarang Girindra, kalau Goro takut disangka Goro-Goro. Goro-goro itu adalah arti lain dari huru-hara. “Sedangkan huru-hara itu adalah bla…bla..bla..”Goro menjelaskan panjang lebar. “Saya ingin informasi bisnis Jamur Tiram Putih,”potong saya….
Gambar melahap Jamur Tiram Putih:

Gambar Jamur Tiram Putih mekar:

bersambung….ke http://doitnow.ws/?p=45
